Senda yang bergurau dengan peradaban musim
Telah mengangkat kembali cerita yang sempat terlupa
Sebatang perasaan yang lama terbengkalai
Dan hampir berkarat
Mulai mau menghijaukan bumi, lewat bebarapa kalimat
Yang sengaja dibiarkan terkurung dalam rasa
Serta tenunan cita-cita mulai rapi
Menyambut senyum merah jambu yang menyapa lewat khayalan
Menggenapi hari dengan dialog-dialog panjang
Yang akan meramaikan masa
Dan menyita waktu tuhan
Untuk sekedar bermanja-manja dengan mimpi perempuan
Mencipta bab-bab baru dalam novel yang belum sempat terselesaikan
Hingga beberapa tawaran mengundangnya makan malam
Mengenyangkan imajinasi hingga terlihat tampak gemuk
Malang, 16.02.09
PEREMPUAN DENGAN JAKET MERAH JAMBU
Februari 18, 2009MENGUNJUNGI MALAM
Februari 18, 2009Seperti malam terdahulu aku masih menunggumu di tempat ini, persis saat kau pamit untuk menjemput mimpimu aku merasakan perasaan yang benar-benar tak dapat aku mengerti. Sebuah cerita yang terus menerus berkejaran di otakku, dan mungkin akan menyeretku yang mulai tak berdaya ini, ya akan memaksaku untuk melakukan apa yang pernah dulu aku lakukan saat otot-otot di tubuh ini masih sangat kokoh. Sedang malam ini tubuhku mulai tidak kuat menahan sapaan udara, seperti orang yang lama mengasingkan diri dan tiba-tiba harus menggauli keramaaian. Rasanya canggung, ya aku merasa aneh malam ini dan semua terasa berat untuk dilalui. Ya kakiku seperti terpaku pada tanah, tak bisa digerakkan. Begitu juga dengan badan ini, rasanya aku seperti gorilla yang tak bisa bebas melangkah kemana-mana padahal tubuhku sangat kurus, ramping dan sangat minimalis sekali.
Sepagi ini aku sudah bangun, entahlah apa yang membuatku cepat-cepat bangun dari fantasi yang melelap dalam mimpi padahal aku biasanya selalu bangun saat matahari sudah meninggi, aku juga merasa sangat aneh hari ini, aku terlihat sangat rajin sekali menurut pandanganku sendiri. Ya aku tampak lebih bersemangat dari kemarin-kemarin, lebih keliatan segar dan tentunya lebih bergairah untuk menggoresi langit dengan warna-warni cahaya. Aku sedikit mulai berpikir, mencari-cari alasan atas perubahan yang lebih ke arah positif ini padahal aku terkesan menjadi lebih negatif biasanya. Ya aku mulai memutar memoriku ke belakang, mengingat-ngingat kejadian yang kulalui siapa tahu aku pernah bertemu seseorang yang mungkin suci dan sudi memberikan kesuciannya padaku. Tapi setelah semakin keras memikirkan hal itu, rasanya tak ada kejadian yang menurutku janggal sebab aku juga tidak begitu keluar rumah, aku lebih senang mengurung diri di kamar sambil memnadangi figura yang terpajang manis di atas dipanku. Ya mengisi hariku dengan aneka imajinasi tentangnya, tentang senyum manis yang sempat menaburi hatiku dengan mawar-mawar putih. Setidaknya aku bisa menikmati senyumnya meski dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, sedikit mampu menghibur diri yang sedikit kusam. Kecuali malam hari, itu pun hanya beberapa malam tertentu saja keluar rumah tidak setiap malam aku menyapa udara malam, sebab aku merasa udara malam kadang membuatku berpikiran semakin renta.
Seperti malam sebelumnya aku keluar rumah lagi, ya hanya untuk mendatangi tempat terakhir dimana kita saling memahami diri kita masing-masing dengan saling melumat bibir dan meresapi rasa yang tersebar ke segala penjuru tubuh. Sekedar menghibur kesunyian ini dengan menikmati sudut-sudut percumbuan yang pernah kita cipta bersama, ya kita pun sempat bersepakat menjadikan sudut-sudut itu menjadi bagian dari sejarah dari negara, sebuah keegoisan yang teramu dari dua keinginan yang tak pantang menyerah. Sekarang aku sudah punya kegiatan rutin, mengunjungi malam dengan udaranya serta mengingat kembali percumbuan-percumbuan yang sempat tercecer di aspal-aspal yang mulai lapuk disapu hujan. Ya aku sudah tidak terlalu menganggur pada malam hari, menjadi pengunjung situs-situs sejarah yang tak sempat kurawat. Aku berlagak sebagai arkeolog yang senang dengan benda-benda purbakala, menyanjung artefak-artefak yang selalu mengingatkanku padamu, dan juga melengkapi mimpiku dengan bermacam warna cahaya.
Hari-hariku berjalan seperti biasanya, mengurung diri di kamar saat matahari menyengat dan mengunjungi malam dengan mimpi yang belum sempurna sebelum terpikat denga gemintang. Meski terkesan monoton, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa karena aku bisa menemuimu dengan caraku sendiri dan mungkin berbeda dengan cara orang kebanyakan. Aku tidak terlalu memperdulikan itu, aku hanya ingin menikmati hidup dengan caraku sendiri serta mampu membahagiakan diriku sendiri karena aku yakin setiap orang mempunyai cara yang berbeda untuk membahagiakan dirinya. Aku tidak ingin ambil pusing dengan apa yang dikatakan orang, sebab aku selalu menyumbat kupingku dengan kapas jika ingin menggauli keramaian.
***
Entah sudah berapa tahun aku menikmatimu dengan cara yang berbeda, mencumbuimu dengan cara yang sederhana dan menggauli keramaian jika hanya bernafsu saja. Aku lebih asyik dengan kesunyian yang aku guratkan, lebih nyaman menyusuri malam seorang diri. Aku kembali mengamati figura manis yang masih kokoh di atas dipanku, namun mulai sedikit berdebu sebab belakangan ini aku tidak sempat bersih-bersih termasuk bersih diri aku pun mulai jarang. Waktuku banyak tersita dengan menikmatimu, membalas senyummu yang manis dalam lelap mentari hingga tak jarang aku merasa gatal di sekujur tubuh, tapi aku malah menikmati gatal-gatal itu sebab aku selalu merasa kau yang menggaruki kulit ini dengan sisir bekas yang kau gunakan menyapu rambutmu.
Malam ini aku kembali mendatangi tempat terakhir dimana kita melepas desah kita dengan nyaman serta meninggalkan ketentraman dihati ikan-ikan di bawah jembatan ini, ya aku menguak kabut yang lama tidak disinggahi hanya untuk menikmatimu dengan cara yang berbeda. Ya mengingat desahan yang lama tidak dapat aku nikmati secara nyata, menjadikannya bekal untuk bermimpi-mimpi dengan sederhana pula, menenun kenangan menjadi sebentuk pengharapan akan lumatan-lumatan yang kita gariskan dahulu.
Mengunjungimu dengan pakaian sederhana, dengan cara sederhana dan dengan perayaan sederhana pula, cukup membagi nafsu yang merangsek naik ke bibir dan menuangkan secawan madu di bibir mungilmu yang kemudian memupuk jadi berjuta-juta pengharapan dan doa. Ya menikmati rembulan hanya dengan sedikit memejamkan mata dan berpura-pura berdialog dengannya serta juga bertutur rasa untuk prolog dari persengkongkolan yang kekal, menandatangani persetujuan awal sebelum memasuki inti dari pengharapan yang mulai mengental.
Mengunjungi malam dengan bertelanjang dada, mencoba melawan kerentaan yang tak masuk akal serta juga mengingat lipstikmu yang sempat menggambar bibir di dadaku. Mengingat penghamilan yang menyebabkan kau tidak percaya lagi padaku namun sebelum kau meninggalkanku malah memintaku untuk mengulangi kembali proses penghamilan itu, yang juga membuatku berdiri keheranan ketika kau berbisik akan memperkosaku di malam terakhirmu di kota ini. ya kado perpisahan katamu, membuatku semakin terheran saja dengan alasanmu meninggalkan kotaku. Bukan karena kenikmatan aku menyanggupi keinginanmu, melainkan hanya mencoba memberikan kesan terakhir yang indah dan mungkin akan selalu kau ingat sepanjang hidupmu.
Seperti pagi yang kering karena kau tak pernah mengunjungiku disaat aku terlelap dengan mimpi basahku, kau selalu mengunjungiki pas tengah malam hanya untuk membagi kelelahanmu yang ditandai dengan desahanmu yang sekali-kali dibarengi dengan rontaan nakal, mungkin untuk memercikkan kenakalanku hingga kau kadang menggigit putingku sampai merah. Kau kadang terkesan nakal dan manja, namun itulah yang membuat aku senang padamu, yang membuat dadaku seperti menjaga bara.
Seperti malam ini aku mencumbui bayanganmu, meraih kenikmatan yang sempat aku rengkuh saat bersamamu dulu.
Bersama rintih malam aku menuangkan doaku,
Malang 15 Februari 09
BIJI SEMANGKA
Februari 15, 2009Hari itu aku baru pulang dari sekolah, biasanya aku jalan kaki sebab jarak antara sekolah dengan rumahku tak lebih dari 2 km. Hari yang cerah, itu dapat kurasakan dari sengatan mentari yang membuatku merasa haus, tenggorokanku rasanya sangat kering. Sejak keluar dari sekolah aku sudah mengawasi kanan-kiri untuk melihat-lihat siapa tahu ada penjual es, namun sama sekali tak kutemui penjaja es dari tadi. Akhirnya aku memutuskan untuk istirahat di bawah pohon, aku melihat semacam tempat duduk yang terbuat dari papan yang biasanya ditempati ibu-ibu ketika menunggu angkot ketika mau ke pasar. Aku selonjorkan kaki ini supaya peredaran darah di betisku berjalan dengan lancar, aku melakukan hal ini setelah sering jalan-jalan dengan pak lik, beliaulah yang mengingatkanku agar setelah berjalan kaki jangan ditekuk karena akan menyebabkan penyakit apa gitu, yang pasti aku lupa apa penyakitnya sebab aku sering lupa dengan nama-nama penyakit. Ah enak rasanya menikmati angin yang membelai rambutku dan menyapu keringat di keningku, dan rasa nyaman itu bertambah setelah penjual buah melintas didepanku.
“ pak buahnya berapaan? “
“ seribu dapat tiga “ jawabnya
“ kalo gitu, semangka enam “ aku mengulurkan uang seribuan dua, penjual buah itu pun beranjak pergi dari tempatku duduk.
Nikmat rasanya semangka ini, apa karena panas yang menyengat semangka ini nikmat untuk disantap. Namun setelah semangka yang terakhir aku agak kaget, aku merasa ada biji semangka yang ikut tertelan, ya hanya sebiji tapi membuatku fikiranku agak karuan. Aku jadi ingat kata nenek dulu kalau makan semangka bijinya jangan sampai tertelan sebab biji itu akan tumbuh didalam tubuhmu, aku jadi cemas. Aku benar-benar cemas, jangan-jangan nanti ditubuhku tumbuh semangka. Aku benar-benar takut, akhirnya aku memutuskan untuk cepat-cepat pulang.
Aku sedikit lega setelah melihat halaman rumahku, aku pun membayangkan nasi dan lauk dimeja makan. Aku ingin cepat-cepat makan yang banyak, berharap langsung buang air besar dan benar-benar sangat berharap biji semangka itu keluar bersamaan dengan beolku. Aku benar-benar takut jika biji itu tumbuh menjadi pohon semangka di dalam tubuhku, moga-moga perutku cepat-cepat mules dan buang air besar serta biji itu juga ikut keluar dengan beolku. Melihat aku makan banyak ibuku terheran-heran sebab biasanya aku makannya sedikit, aku menjawab asal saja dengan mengatakan kalau aku lagi nafsu banget untuk makan. Ibuku malah mengatakan kalau aku mungkin aku sudah baligh, sebab katanya ciri-ciri orang baligh kalau tidak ingin dekat-dekat sama perempuan biasanya makannya banyak. Aku hanya mengiyakan saja sebab perutku mulai tidak sabar ingin muntah, kulihat ibu tersenyum.
Aku sudah berada di WC, aku tak lupa mengawasi beolku dan sangat berharap sekali biji semangka itu juga ikut keluar. Ku tunggu sampai lama, namun juga tak ku lihat biji semangka itu, aku sedikit takut lagi. Dan ketakutanku tambah meningkat setelah tak jua kulihat biji semangka itu, aku keluar dari WC dengan fikiran yang tak karuan. Wajahku kusut sekali, karena tak ingin berkalut-kalut aku coba untuk tidur namun mataku tak kunjung bisa terpejam, akhirnya aku hanya mondar-mandir didalam kamar. Aku coba keluar kamar dan duduk di ruang tamu sambil menyetel TV untuk sekedar menenangkan fikiranku yang kalut.
Tak terasa malam mulai datang, aku pun tidak ngaji malam ini karena fikiranku masih kalut. Aku beralasan malas waktu ibuku menanyakan mengapa aku tidak ngaji di langgar, dan omelan-omelan meluncur deras dari ibuku, nasehat sech tapi karena aku sedikit agak kesal aku anggap itu sebagai omelan. Semalaman aku tidak bisa tidur, fikiranku masih tidak bisa diajak terlelap padahal mataku mulai tidak kuat menahan kantuk.
“ bangun us ‘ suara ibuku terdengar berkali-kali namun aku tak menghiraukannya.
Aku baru terbangun jam sembilan, saat aku keluar dari kamar aku lihat ibuku dari dapur masih dengan pisaunya. Hatiku gemetaran, bukan karena melihat pisau ditangan ibu tapi karena hari ini aku terlambat bangun dan otomatis tidak masuk sekolah.
“ mulai besok selama seminggu kamu tidak dapat uang saku “ aku hanya bisa pasrah, aku tak kuasa untuk membantahnya sebab mungkin akan lebih berat akibatnya.
Aku hanya tersenyum sendiri mengingat peristiwa sepuluh tahun yang lalu, sungguh indah masa kanak-kanak itu, rasanya baru kemarin aku menikmatinya.
Malang, Februari 2009
SEHABIS MAKAN MALAM
Februari 7, 2009Hujan merintikkan rinduku kembali
Setelah lama di bakar musim
Angin mengantarkan aroma tubuhmu
Seperti wangi tanah di hujan pertama
Dan aku hanya diam menikmati malam
Terkenyangkan oleh cerita-cerita madu malaikat
Yang kadang setengah berbisik dikupingku
Serta merangkai kembali benang yang tak beraturan
Menjadi sutera-sutera indah
Untuk mendandani pagi esok dengan khayalanku
Sekedar bernostalgia dengan sua di titik hujan
Yang sampai sekarang belum terbukukan dalam kitab-kitab tuhan
Malang, 26.01.09
PERNYATAAN
Februari 1, 2009Tak salah bila ku katakana
Kau lebih sempurna dari purnama
Malang, 27 Oktober 2007
AKU TAK SANGGUP MENATAP MENTARI
Februari 1, 2009Aku tak sanggup menatap mentari
Karena lempengan tulang rusuk
Yang baru kutemukan
Telah kau remukkan
Dengan pukulan manis bibir mungilmu
Dan lihatlah belulang tak berdaging
Ini bukan mumi yang salah masuk dunia
Tapi,
Adalah jejaka yang kau buang
Mawarnya
Ke comberan
Sepi ini telah membusuk
Aromanya pun menyebar ke ujung mimpi sekalipun
Dan anjing-anjing sipir keparat
Telah mendeteksi bau hati yang terpanggang gerik sunyi
Ah, daun kehidupan mulai mengeriput perlahan
Seiring alur sinema yang ku mainkan
Berakhir tanpa kata-kata
Dan jalan setapak yang ku pijak
Meranggas
Siap terbakar kobaran luka cinta
Mati pun seperti membayang di kepala
Tetes demi tetes merembes
Menganak sungai di pipi hari
Memadati parit-parit hati
Terciptalah telaga pahit di perempatan citaku
Angin berhembus daun bergoyang
Kata-kata lapuk oleh
Rengekan bahasa tubuh
Malang, 09 Agustus 2007
ROMANTIS PUITIS
Februari 1, 2009Sepucuk surat dari hati
Terpanggil temui mutiara bening
Lewat selembar perangko
Yang mengapit bibir aksara
Terbanglah luapan bait kasih
Pada tepian cinta muda
Menajamkan romantis di dada
Dengan kalimat-kalimat puitis
Yang bertebaran dalam buai mimpi
Akankah sebait isi hati terjawab
Bila usia menahan lidah
Untuk tidak meletupkan suara
Dan seraut senyum tertawan di bibir
Dengan endapan yang mengering
Ah, sanggupkah teka-teki di baca
Setelah bingkisan luka pecah
Basahi kertas-kertas hari
Hingga lumurnya mengental
Dan mendaging
Sumenep, 27 Mei 2007
GERAKAN TANGAN
Februari 1, 2009Sendiri kata menyulam mimpinya
Memetik buah-buah khayal dalam sepi
Angin pun hanya menyapa
Merintikkan aksara di cerita tadi malam
Yang tertulis dalam lembaran buku harian
Dan putih hati kian memutih
Setelah upacara penyambutan di tutup dengan
Doa-doa panjang tak bermakna
Ah, jangan bermunafik ria di sini
Sebab ayat-ayat suci terpampang jelas
Dalam lelehan peristiwa ini
Dan tangan-tangan usil harus di penggal
Untuk acara penghormatan pada sang tuan
Mari lakukan ramai-ramai saja
Hingga gaduh semakin mengaduh
Langit harus menutup telinganya
Dengan kapas-kapas surgawi
Jangan meneteskan air mata
Karena peristiwa ini telah basi
Untuk di tangisi
Lukai saja kepalamu dan berteriaklah senyaring-nyaringnya
Agar sepi sedikit urung diri
Menguliti keadaan ini
Dan tawa setan semakin jelas mengintai
Persetubuhan yang kita nikmati bersama Tuhan
Malang, 31 Oktober 2007
SAHABAT MAYA
Februari 1, 2009: mawar
Di antara kita
Hanya ada kata-kata ringkas
Dan aksara yang di singkat
Untuk meminimalisir biaya produksi
Lantaran krisis memang telah melanda
Namun, ribuan gemintang sudah cukup senang
Sebab, cahaya ketulusan berpendar indah
Menggantung di pipit hari
Semerbak persahabatan
Akan ku pelihara hingga senja
Melayang mesra di angkasa
Dan kecipak tanya tentang wajah rembulan
Tak kan ku bahas lagi
Esok bila sua menakdirkan malam mandi
Dalam hujan
Aku akan menjadi dingin yang terus merangkul
Kata-kata mesra dalam jiwa
Dan ucapan sayang tak perlu di pertanyakan
Kebenarannya
Sebab, pagi akan utuh oleh gemerisik embun
Malang, 04 November 2007
Jeda
Februari 1, 2009Setelah kita puas menikmati malam yang hangat
Kantuk mulai menyerang, tubuh sedikit kaku
Dan ingin di reparasi dalam sempuhan mimpi
Yang akan mengajari mandi di kali
Serta akan meludahi ikan-ikan yang tak menari
Agar nada-nada misteri terkatup rapat di lubang batu
Tak terkuak, sedikitpun
Dan masa kanak nakal akan mengajari kita
Tentang langkah yang benar menangkap jangkrik
Sebelum musim kemarau tutup buku
Malang 25.12.08
Ditulis oleh Andiyono