Perempuan datang dengan bibir terluka, membawa seikat bunga kenangan. Bunga yang dipetik dari kebunku, ujarnya. Aku mengingat kembali air mata ibu, yang lancar menyirami bunga-bunga tiap pagi. Ingat kembali akan aroma coklat dari tiap asap dupa yang ibu sulut tiap ingin membangunkanku. Tiap subuh, dengan cium manis di keningku. Aku hafal betul saat-saat ibu mengajakku berjamaah, lantas bercerita tentang bapak yang tak pernah pulang. Bapak yang tak pernah aku lihat, hanya dapat aku bayangkan wajahnya dari cerita-cerita ibu tiap pagi. Tiap pagi, ibu mengantarku ke kali dan kita pun mandi bersama. Ibu, kapan kita bisa mandi bersama lagi?
Perempuan yang datang dengan seikat bunga kenangan masih didepanku, membawakan cerita masa lalu. Membawakan doa-doa yang tak pernah terkabulkan, membawakan gelang-gelang imitasi. Dan aku tetap dengan lamunan, tentang gelang emas yang tak pernah bisa aku kenakan di pesta pernikahanku.
Malang, 2009
Perempuan dan Gelang Emas
Agustus 2, 2009Malaikat
Agustus 2, 2009Aku selalu bermimpi di datangi malaikat, dengan wajah rupawan dan berjenis perempuan. Tanpa busana, tanpa apapun yang menutup kemaluannya. Malaikat yang membawa nikmat, dan selalu meniduri mimpiku. Mencipta harapan untuk jalan yang akan aku tempuh, berkilau kemesraan.
Malaikat yang datang pada malam hari, membawakan purnama untuk menidurkan otot-ototku yang seharian harus menegang. Dan aku pun terlelap dalam pangkuannya, bersama mimpi-mimpi panjang yang tak ’kan berakhir. Mimpi tentang dirimu yang telanjang, dan mengajakku tidur dibawah rembulan dengan iring-iringan shalawat kepada semesta.
Malang, 2009
Bintang
Agustus 2, 2009Ada bintang, datang dengan seorang perempuan. Jodohku mungkin, atau perawat untuk pesakitan ini. yang aku ingat, dia selalu menemani malam-malamku. Dongeng-dongeng lancar mengalir dari urat-urat senyumnya, dan aku selalu larut dalam tingkah hipnotisnya.
Bintang datang lagi, kali ini menjemput perempuan yang pernah diantarkan padaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya, hanya ada air mata dan darah.
Bintang datang kembali, untuk menjemputku. Aku menurut saja, dia tak berbicara apa-apa. Langsung saja merangkulku, dan aku tidak tahu apa-apa lagi.
Sudah lama bintang tidak datang padaku, tapi hidupku sudah sejahtera. Apa mungkin dia datang hanya untuk menyejahterakanku?
Malang, 2009
Sebatang Rokok dan Cerita Malam Hari
Agustus 2, 2009Kita kembali lahir lewat angin yang diantarkan malam pada bilik-bilik warung kopi, ada sisa kenangan yang tak terawat. Kenangan tentang dirimu yang tak sempat aku nikmati, sebatang rokok yang tak pernah tersulut. Rokok yang pernah kau berikan pada gadis peminta-minta, dan aku hanya mampu mengingat semua itu dalam keadaan tidak utuh,
di malam ini.
Malang, 2009
Pertigaan Waktu
Agustus 2, 2009Sempat terhenti di pertigaan waktu, ada beberapa hal yang perlu kita ulas kembali sebelum perjalanan ini dilanjutkan. Ini tentang bekal-bekal dan anggota yang telah gugur di perjalanan, tentang kerikil yang akan kita pungut atau kita tinggalkan nanti. Tentang peluang nyawa kita, pulang ke pangkuan keluargakah kita atau mungkin akan bercumbu dengan tanah dan para malaikat. Sesuatu yang harus kita pikirkan, sebelum jeda panjang ini termakan kembali oleh waktu. Dan jangan pernah kita berselisih tanpa hal yang jelas, hanya karena kepentingan pribadi kita. Lupakanlah sejenak lapar yang menggelitik perutmu masing-masing, kita fokus dulu pada mimpi yang telah kita gantungkan bersama.
Berlama-lamalah di pertigaan waktu, untuk mendinginkan egoisme kita.
Malang, 2009
Ingin Pulang
Agustus 2, 2009Ada janji yang kita pendam di halaman rumahmu, kau mungkin telah menjaganya agar tidak ada yang menggali dan memindah letaknya. Janji yang hanya kau dan aku yang tahu, janji yang menyeret kenyamananku untuk pulang dan segera menggali janji itu bersama-sama.
Malang, 2009
Segelas Air Mata
Agustus 2, 2009Malam dipenuhi hujan, ada kita dalam kamar percintaan. Saling bertatap, sama-sama mendekap diri dan ada segelas air mata di antara kita. Segelas yang tak tersentuh, hanya ada hampa yang mencoba menggodainya. Kita pun ikut hampa, bersama segelas air mata dan nafsu yang lugu penuh malu.
Segelas air mata telah bercampur keringat percintaan kita, dan kita mendiamkannya saja dengan air mata di pipi kita masing-masing.
Malang, 2009
Sepuluh Menit
Agustus 2, 2009Berdiam diri dengan fikiran kosong, ada beberapa bahan yang menunggu untuk ditulis menjadi sebuah cerita. Cerita untuk dinikmati sendiri, dalam sepuluh menit. Sepuluh menit untuk mengusir bayangan dirimu, untuk kembali hidup dalam kekosongan.
Malang, 2009
Menemui Pagi
Agustus 2, 2009 Aku ingin menemui dirimu di pagi buta, saat kita belum utuh dengan urat-urat kita. Saat-saat dimana kita berada dalam titik terlemah, dan hanya ada bau mulut yang bercampur dengan sisa embun. Tak ada ketertarikan badaniah, maupun fikiran tentang bentuk tubuhmu yang molek.
Malang, 2009
Seseorang yang Mengajakku Mandi Hujan
Agustus 2, 2009Datang dengan tergesa seorang wanita cantik tanpa busana, mengajakku mandi dalam hujan. Menikmati tubuhnya dan warna hujan mendamaikan rintih yang telah lama menggerogoti langkah ini, memberi warna baru pada aspal-aspal yang telah berlumut.
Malang, 2009
Ditulis oleh Andiyono